Cinta monyet itu gak selamanya bener....
Tepatnya
6 tahun yang lalu, ketika aku masih smp. Hari itu adalah hari pertama masuk
smp. Kita semua dikumpulkan dihalaman sekolah, didepan lapangan bendera untuk
pembagian kelas. Aku bertemu dengan Bapak guru yang tinggi. Dia membacakan
nama-nama siswa. Dialah yang membagi kami menjadi beberapa kelas. Di SMP ini
ada 7 ruang kelas, mulai dari kelas A-G.aku terus memperhatikan semua siswa
baru. Disana aku melihat ada berbagai macam jenis orang, ada yang jelek,
setengah jelek, setengah menarik dan menarik. Ada juga teman yang kukenal
ketika aku mengikuti suatu lomba di masa SD. Ketika SD aku merupakan murid yang
lumayan pintardan sering dapat juara. Ada kenalan dari lomba bahasa
indonesia,lomba seni rupa, dan lomba pendidikan agama islam. Aku masih ingat
dua teman ketika ikut lomba bahasa indonesia, yang satu pokoknya dia itu punya
mulut yang lebih besar dari pada punyaku, mulutnya hampir menguasai sebagian
dari mukanya dan yang satunya lagi dia yang memberi contekan isi cerpen yang
harus diceritakan kembali setelah kita mendenngarkannya. Saat itu aku sangat
terbantu walau pada akhirnya hanya mampu menceritakannya dalam satu kalimat
yang biasa digunakan ketika kita mengawali suatu cerita. Dan masih banyak lagi
teman yang kukenal disana meskipun mereka tidak ingat kepadaku.
Kelas
A sudah terbentuk, kemudian kelas B dan sekarang giliran kelas C. Bapak guru
mulai membacakan daftar nama yang masuk kedalam kelas C. Absen pertama bernama
Coki, seketika itu aku kagum. Dia adalah orang ganteng pertama yang pernah
kutemui. Hidungnya mancung, wajahnya lonjong tapi agak bulat, rambutnya ikal
aneh dengan bagian belakang sedikit menjulang keatas mirip tokoh pewayangan
Gathot Kaca dan orangnya lebih tinggi dariku. Gathot Kaca adalah nama yang
sesuai kuberikan untuknya. Gathot Kaca adalah pahlawan didalam cerita
pewayangan dan harapanku dia akan menjadi pahlawan dicerita hidupku.
Aku
sangat berharap dapat satu kelas dengan dia. Kemudian kembali dibacakan
nama-nama siswa berikutnya.
“
Ikata Dinasastro”.
Itu
namaku, absen keenam, aku sangat senang mendengar namaku masuk menjadi bagian
dari kelas C. Harapanku terkabul, kini aku bisa memandangnya kapan saja karena
dia satu kelas denganku. Aku merasa sangat beruntung.
Setelah
pembagian kelas selesai, ada pengarahan dari Bapak guru tempat dari
masing-masing ruangan kelas kami. Kelasku berada disamping lapangan tepatnya
sebelah barat menghadap ketimur. Kemudian kami diiring untuk masuk keruang
kelas masing-masing. Kami memasuki ruangan kelas dengan berdesak-desakan. Kami
tidak sabar menduduki bangku baru disekolah yang baru ini dengan lebih banyak
teman dikelas. Rata-rata di SD, dari kelas satu sampai kelas 6 hanya ada satu
ruang kelas dengan jumlah murid sebelas sampai dua puluh lima orang siswa.
Sedangkan di SMP satu kelas ada empat puluh orang dalam satu kelas. Ini sangat
luar biasa.
Aku
mendapatkan bangku dibagian paling pojok dari depan nomor dua, dekat dengan
pintu masuk. Disampingku ada seorang teman dari sekolah lain, rumahnya tidak
terlalu jauh dari SMP, hanya butuh waktu 10 menit ke sekolah. Dia berkulit
hitam, berambut lurus, kecil dan pendek seperti diriku dan dia orang yang
pemalu. Didepanku ada dua orang teman, yang satu kurus dan yang satunya lagi
gemuk, mereke bernama Rita dan Ika, dua-duanya berkulit hitam. Rita rumahnya masih
satu desa denganku tetapi berbeda sekolahan semasa SD. Sedangkan ika adalah
anak yang lahir dan dibesarkan di Ibu Kota Jakarta. Ayah dan ibunya penduduk
asli didaerah dekat SMP, hanya mereka merantau ke Ibu Kota untuk mencari
nafkah. Dia sekolah di SMP ini atas kemauan ibunya karena biaya pendidikan
didesa dan dikota terpantau jauh lebih mahal di kota. Dia mirip sekali dengan
orang Indonesia bagian timur, mukanya saja sangat terlihat jelas dan rambutnya
juga keriting berwarna kemerahan seperti rambut yang terlalu banyak terkena
sinar matahari siang. Pertama kali berkenalan aku kira dia orang dari Nusa
Tenggara, entah Nusa Tenggara Timur atau Nusa Tenggara Barat. Setelah tanya
lebih jauh, betapa kagetnya aku bahwa dia adalah orang jawa asli. Ayah dan ibunya
asli orang jawa dan tidak ada sama sekali keluarga dari keturuan luar jawa.
Yang mengherankan mengapa mukanya bisa seperti itu, apakah itu dari nenek
moyangnya, karena konon dahulu kala indonesia dan negara-negara lain itu
menjadi satu pulau yang sangat besar. Mungkin nenek moyangnya memang dari timur
karena hidupnya berpindah-pindah, sampailah ia ketempat yang sekarang kita
sebut sebagai pulau Jawa. Ia menetap disana dan mengahasilkan keturunan hingga
sekarang, sampai pada keturunannya yang terkhir adalah si Ika.
Lalu
Rita, dia adalah anak yang gendut tapi kegendutannya tidak senormal orang
gendut lainnya. Bagian kakinya normal seperti kakiku tapi dari pinggul ke atas
dia gemuk. Rambutnya pendek dibawah telinga, potongan rambutnya tidak rapi
mungkin dikarenakan rambutnya yang kusut dan mungkin lagi dia lebih jarang
keramas dibanding denganku. Aku keramas satu minggu sekali, kadang juga dua
minggu sekali tetapi kalau dia mungkin tiga minggu atau sebulan sekali baru
keramas. Dia memiliki satu buah tahi lalat di bagian wajahnya.
Tidak
lama kemudian, seorang Guru muda memasuki ruangan kelas, dia berjenis
laki-laki, berkulit hitam dan tinggi dengan model rambut belah tengah. Beliau
duduk di bangku Guru yang berada didekat jendela. Beliau memperkenalkan
dirinya. Ia bernama Susilo, guru mata pelajaran IPS yang menjadi Guru kelas di
kelas kami. Ada pepatah tak kenal maka tak sayang, maka dari itu kami
memperkenalkan diri satu persatu di depan kelas atas permintaan Guru kelas kami
untuk menjalin silaturahmi. Perkenalan dimulai dari bangku bagian depan ke
bangku bagian belakang. Selesai perkenalan, beliau bercerita banyak tentang
keadaan sekolah dan pengalamannya semasa sekolah. Beberapa menit kemudian
beliau pergi meninggalkan kelas dan memberikan kesempatan kepada kami untuk
mengenal satu sama lain.
Keadaan
didalam kelas sangat gaduh, ada yang bercanda tawa dengan orang yang sudah
dikenalnya, ada juga yang mengitari seluruh penjuru ruangan kelas untuk mencari
tahu nama teman-teman baru ini dan ada juga yang hanya diam seperti diriku yang
cukup mengenal teman-teman yang berada didekatku saja.
Pandanganku
tidak bisa fokus,mencari keberadaan si Coki, dimana dia duduk sekarang. Aku
pandangi bangku dari depan pojok kiri sampai paling belakang pojok kanan.
Ternyata dia ada di bangku pojok kanan dari depan nomor 3. Itu sangat jauh
sekali denganku, aku sangat sedih tapi setidaknya dia masih satu kelas
denganku. Aku terus memandanginya, baru kali ini aku bisa mengagumi seseorang
yang menurutku tergolong berlebihan. Tidak apa-apa . kulihat dia sangat asyik
mengobrol dengan teman-temannya. Dia lewat didepan kelas menuju luar kelas
bersama teman-temannya. Aku tidak henti-hentinya memuji betapa menariknya dia.
Bel
tanda pulang sekolah pun berbunyi, kami segera bersiap untuk pulang. Aku
mengambil sepedaku yang terparkir dibelakang kelas. Tidak sengaja sepedaku
dekat dengan sepedanya. Sepedanya memiliki warna, model dan merek yang sama
denganku, sama persis, hanya saja sepedanya lebih bagus dari sepedaku. Ini
menambah rasa ingin lebih mengenal dia. Agak malu diriku melihat dia ketika
hendak mengambil sepedaku. Akan kuusahakan bahwa sepedaku akan selalu dekat
dekat dengan sepedanya. Kami pun pulang sekolah, tak kukira dia pulang searah
denganku. Dia pulang lebih awal awal dari diriku. Aku mengayuh sepeda dengan
sangat cepat sehingga aku bisa menyusulnya. Sampai tepat dibekangnya, kayuhan
sepedaku melamban. Aku tidak berani mendahuluinya, aku terbawa perasaan kagum.
Aku berharap dia dan temannya bisa bergerak lebih cepat. Sayangnya mereka tetap
pada kecepatan sebelumnya, lambat. Aku hanya bisa diam dan membuntutinya dari
belakang. Aku tidak ada maksud membuntutinya, aku hanya ingin melihatnnya
disekolah saja. Hanya karena perasaan yang tidak jelas aku berada agak jauh
dibelakangnya. Setelah ia belok menuju rumahnya dan berpisah dengan jalanku.
Baru aku menambah kecepatan lagi agar cepat sampai rumah dan bertemu
keluargaku.
Aku
terus mengayuh sepeda sampai dirumahku.
“Mamah,
aku pulang.....”
Aku
menuju kamarku untuk melepas penat. Aku merebahkan badanku dengan masih memakai
seragam. Rasanya lelah sekali hari
pertamaku masuk sekolah.
Tok....tok...tok...!
kaka!, suara ibu memanggilku.
Weits!
Aku ketiduran, ya ampun aku samapi tidak sadar, badanku masih tergeletak
dilantai dan seragamnya pun masih menempel di badanku. Badanku rasanya masih
agak lemas, karena saking lelahnya. Untuk bangun pun susah.
Dengan
nada pelan pun aku menjawab,” iya mah!, sebentar lagi aku kesana”, aku menguap.
“tolong
bantu mama ya, siap-siap masak untuk makan”, kata ibuku.
Ya
begitulah si Mama, baru masak setelah aku pulang, kita sarapan saja jarang,
tapi kita selau makan siang dan makan malam. Tepatnya makan siang menjelang
sore karena masakan Mama baru jadi setelah angka menunjukkan pukul 2 siang atau
lebih, pokoknya yang mendekati asar. Jadi dari pagi tadi dirumah hanya ada nasi
tanpa lauk dan sayur, dan selalu seperti itu setiap hari. Tapi kami sudah
terbiasa.
Tolong
haluskan bumbunya ya?
Apa
bumbunya mah?
Bawang
putih, bawang merah, mrica, jahe sama laosnya di geprak ya...
Bawang
putih berapa?
Bawang
putih 3, bawang merah 3..
Banyak
banget kan sayurnya Cuma sedikit?
Udah
tumbuk aja, jangan sering nglawan orang tua
Yaudah,
ini mricanya seberapa? Aku masukkan 10 biji ya?, aku sambil menghitung
gelintiran mrica
Iya,
jahe sama laosnya dikira-kira sendiri aja jangan tanya Mama terus, ini Mama
juga baru goreng tempe nanti bisa gosong kalau kamu tanya mamah terus.
Ini
mah, udah, wah anak Mama pnter naget masaknya!
“padahal
aku Cuma numbuk bumbu, ini kadang Mama berlebihan”, gumamku.
Setelah
dimasak, loh kog nggak asin? Kaka tadi belum dikasih garam ya?
Iya
mah, nanti kalau tak kasih garam bisa keasinan, kan Mama kalau masak suka
ngasih garam membabi buta, nah kalau gitu bisa keasinan. Apalagi Mama kalau
masak kan selalu keasinan, naanti kalau aku tambah garamnya, masakan Mama bukan
jadi sayur tapi jadi air laut, asinnya tuh luar binasa, bisa buat Kaka awet
kaya ikan asin, hahaahaa.
Heh,
asin juga kamusuka kan Ka?
Hehe.....
Dah,
mateng kan mah, boleh dimakan kan?
Ayo
kita makan......
Setelah
makan kami, bersih-bersih rumah, selesai itu kami santai didepan rumah sambil bersenda
gurau atau nonton televisi yang acaranya bernuansa komedi.
Beberapa
hari pun berlalu.
Keesokan
harinya, disekolah aku ngobrol sama teman satu bangku.
loh
kog kamu sekarang berkerudung, kemarin kan nggak pakek?
Kan
aku udah baligh, makanya aku langsung kerudungan.
Iya
ya?!, tapi aku belum, mungkin masih lama, kan aku masih kecil. (padahal dia
badannya lebih kecil dari aku, kog udah duluan ya). Gumamku didalam hati.
Temenku
dulu juga ada, dia kerudungan pas kelas 3, karena balighnya kelas 3 juga.
Gitu
ya..., kenapa gak dari kelas satu aja, buat jaga-jaga..
Kan
masih sunnah Ko, jadi gak pakek krerudung juga gak papa kan?
Iya
sih, yaudah deh, kalo aku besok SMA aja...
Bel
masuk berbunyi, ibu guru masuk, kemudian kami mulai pelajaran. Pelajaran
berjalan dengan hikmat.
Kriiiiiing....
Ada bunyi bel istirahat. Dari pelajaran sebelumnya kami mendapat PR yang
lumayan gampang.
Sekarang
ibu beri tugas menulis biodata diri dengan bahasa inggris, minggu depan
perkenalan diri sesuai dengan apa yang kamu tulis dibuku sebanyak-banyaknya,
kemudian dikumpulkan.
Iya
buuuuu.
Hey
kamu mau jajan ke kantin nggak, ayo bareng sama aku, aku haus banget nih.
Ayo
aku tadi juga belum sarapan.
Sesampai
dikantin, aku mau beli nasi, kamu mau ikut-ikutan nggak, keliatannya kamu
makannya banyak.
(waduh
emang mukaku kaya gitu ya kelihatannya, emang sih makanku banyak, tapi jangan
terang-terangan gitu juga kali ya). Iya, sekalian deh dipesenin.
Ditempat
duduk kantin.
Hey
kamu ngrasa gak sih kalau guru Bahasa Inggris tadi orangnya sedikit sadis?
Nggak
aku biasa-biasa aja, jangan buruk sangka deh. Jangan-jagan kamu emang gak
bahasa inggris ya, jadi ketemu gurunya juga kamu udah takut duluan.
Enggak
juga sih, tapi menurut instingku, guru itu luar biasa sadis, masak baru sekali
masuk udah disuruh perkenalan didepan kelas pakek bahasa inggris pula.
Nah
kan ketahuan, itu dasarnya kamu nggak bisa bahasa inggris kan? Ngaku aja, pakek
nuduh orang aja.
Hmmm
yaudah deh, aku laper mau makan dulu.
Kan
yang belum sarapan aku, kenapa kamu yang laper, ternyata makanmu emang banyak
sesua dugaanku sebelumnya.
...(aku
diam aja, sambil makan)
Selesai
makan, aku jalan ke kasir, berapa bu nasi soto 1, es teh satu, tempe 2?
Lima
ribu dek.
Ini
ya buk, terimakasih. (ini uang sakuku cuma lima ribu dikurangi lima ribu sama
dengan nol, waduuuh uangku habis, nanti pulang sekolah nggak bisa beli es, mana
cuacanya panas banget, besok aku harus pengiritan)
Ko!
Ayo buruan masuk kelas, udah bel nih, nanti kita bisa nggak diperbolehkan masuk
kalau telat.
Oke.
Aku
jalan menuju kelas, aku lihat ibu guru bahasa indonesia udah hampir sampai
dikelas. Aku jalan buru-buru banget tapi gak bisa lari, perutku kekenyangan.
(ayo cepet Ko nanti keduluan sama gurunya). Tapi untung aja pas aku mau masuk
ke kelas, gurunya diajak ngobrol sebentar dengan guru dikelas sebelah.
Hahaha....aku bisa atur napas dulu di dalam kelas sebelum pelajaran dimulai.
Aku menoleh ke arah kanan, mengintai apa yang sedang ia lakukan disebelah sana.
Aku lihat si Dia udah ngeluarin buku aja, kayaknya dia orang yang rajin, nggak
salah memang plihanku. Hahaa.
to be continued......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar