Kamis, 13 Oktober 2016



Urgensi Perencanaan Pembelajaran dalan Proses Pembelajaran

Kompetensi yang sudah direncanakan oleh pelaku pembelajaran (Guru) yang diharapkan mampu menghasilkan output (tujuan) dari proses pembelajaran.
Menurut Wina Sanjaya :
1.      Pembelajaran adalah Proses yang Bertujuan
Semakin kompleks tujuan yang ingin dicapai, maka semakin kompleks proses pembelajaran, berarti semakin kompleks pula perencanaan yang harus disusun oleh guru. Karena Guru yang melakukan pelajaran dengan menggunakan ceramah atau analisis kasus, proses itu diarahkan untuk mencapai satu tujuan.
2.      Pembelajaran adalah Proses Kerjasama
Minimal melibatkan guru dan siswa, atau tenaga pendidikan lain (Misal : Pustakawan, tenaga Laboran dll).
Dengan menggunakan Student Active Learning. Guru dan siswa perlu bekerja secara harmonis. Pentingnya perencanaan pembelajaran, guru perlu merencanakan apa yang harus dilakukan oleh siswa agar tujuan pembelajaran tercapai, disamping guru merencanakan apa yang sebaiknya diperankan dirinya sebagai pengelola pembelajaran.
3.      Proses Pembelajaran adalah Proses yang Kompleks
Pembelajaran bukan hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran, akan tetapi suatu proses pembentukan perilaku siswa. Siswa adalah organisme unk yang sedang berkembang. Mereka memiliki minat dan bakat yang berbeda dan juga gaya belajar yang berbeda. Dalam proses ini harus memperhitungkan kemungkinan yang terjadi dari karakteristik masing-masing siswa.
Karakteristik Siswa
Potensi Siswa
Kedaan Siswa
-Minat
-Bakat
-Fisik ( Rabun, Tuli sebelah, Susah membaca/menulis, dll)
-Psikis ( Keterbelakangan mental,dll)
-Lingkungan ( Terminal, Perkotaan, Desa, dll)


     4.  Proses Pembelajaran akan aktif manakala memanfaatkan berbagai sarana yang tersedia, termasuk  jasa   berbagai sumber belajar.

Jadi Perencanaan Pembelajaran dapat dikatan Urgensi adalah sebagai berikut :

1.      Sebagai petunjuk arah kegiatan dalam pencapaian dan tujuan pembelajaran.
2.      Pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi semua unsur yang terllibat dalam kegiatan pembelajaran.
3.      Pedoman kerja bagi penyelenggara dan peserta maupun pelaku pembelajaran.
4.   Alat ukur bagi pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Misal menggunakan SOP ( Sistem Operaso Prosedur).
5.      Alat untuk mengatasi kesenjangan dalam proses pembelajaran.
6.      Perencanaan pembangunan sebagai instrumen evaluasi pembelajaran yang riil.  

Rabu, 12 Oktober 2016

Kisah cinta seorang bocah




 Cinta monyet itu gak selamanya bener....

Tepatnya 6 tahun yang lalu, ketika aku masih smp. Hari itu adalah hari pertama masuk smp. Kita semua dikumpulkan dihalaman sekolah, didepan lapangan bendera untuk pembagian kelas. Aku bertemu dengan Bapak guru yang tinggi. Dia membacakan nama-nama siswa. Dialah yang membagi kami menjadi beberapa kelas. Di SMP ini ada 7 ruang kelas, mulai dari kelas A-G.aku terus memperhatikan semua siswa baru. Disana aku melihat ada berbagai macam jenis orang, ada yang jelek, setengah jelek, setengah menarik dan menarik. Ada juga teman yang kukenal ketika aku mengikuti suatu lomba di masa SD. Ketika SD aku merupakan murid yang lumayan pintardan sering dapat juara. Ada kenalan dari lomba bahasa indonesia,lomba seni rupa, dan lomba pendidikan agama islam. Aku masih ingat dua teman ketika ikut lomba bahasa indonesia, yang satu pokoknya dia itu punya mulut yang lebih besar dari pada punyaku, mulutnya hampir menguasai sebagian dari mukanya dan yang satunya lagi dia yang memberi contekan isi cerpen yang harus diceritakan kembali setelah kita mendenngarkannya. Saat itu aku sangat terbantu walau pada akhirnya hanya mampu menceritakannya dalam satu kalimat yang biasa digunakan ketika kita mengawali suatu cerita. Dan masih banyak lagi teman yang kukenal disana meskipun mereka tidak ingat kepadaku.
Kelas A sudah terbentuk, kemudian kelas B dan sekarang giliran kelas C. Bapak guru mulai membacakan daftar nama yang masuk kedalam kelas C. Absen pertama bernama Coki, seketika itu aku kagum. Dia adalah orang ganteng pertama yang pernah kutemui. Hidungnya mancung, wajahnya lonjong tapi agak bulat, rambutnya ikal aneh dengan bagian belakang sedikit menjulang keatas mirip tokoh pewayangan Gathot Kaca dan orangnya lebih tinggi dariku. Gathot Kaca adalah nama yang sesuai kuberikan untuknya. Gathot Kaca adalah pahlawan didalam cerita pewayangan dan harapanku dia akan menjadi pahlawan dicerita hidupku.
Aku sangat berharap dapat satu kelas dengan dia. Kemudian kembali dibacakan nama-nama siswa berikutnya.
“ Ikata Dinasastro”.
Itu namaku, absen keenam, aku sangat senang mendengar namaku masuk menjadi bagian dari kelas C. Harapanku terkabul, kini aku bisa memandangnya kapan saja karena dia satu kelas denganku. Aku merasa sangat beruntung.
Setelah pembagian kelas selesai, ada pengarahan dari Bapak guru tempat dari masing-masing ruangan kelas kami. Kelasku berada disamping lapangan tepatnya sebelah barat menghadap ketimur. Kemudian kami diiring untuk masuk keruang kelas masing-masing. Kami memasuki ruangan kelas dengan berdesak-desakan. Kami tidak sabar menduduki bangku baru disekolah yang baru ini dengan lebih banyak teman dikelas. Rata-rata di SD, dari kelas satu sampai kelas 6 hanya ada satu ruang kelas dengan jumlah murid sebelas sampai dua puluh lima orang siswa. Sedangkan di SMP satu kelas ada empat puluh orang dalam satu kelas. Ini sangat luar biasa.
Aku mendapatkan bangku dibagian paling pojok dari depan nomor dua, dekat dengan pintu masuk. Disampingku ada seorang teman dari sekolah lain, rumahnya tidak terlalu jauh dari SMP, hanya butuh waktu 10 menit ke sekolah. Dia berkulit hitam, berambut lurus, kecil dan pendek seperti diriku dan dia orang yang pemalu. Didepanku ada dua orang teman, yang satu kurus dan yang satunya lagi gemuk, mereke bernama Rita dan Ika, dua-duanya berkulit hitam. Rita rumahnya masih satu desa denganku tetapi berbeda sekolahan semasa SD. Sedangkan ika adalah anak yang lahir dan dibesarkan di Ibu Kota Jakarta. Ayah dan ibunya penduduk asli didaerah dekat SMP, hanya mereka merantau ke Ibu Kota untuk mencari nafkah. Dia sekolah di SMP ini atas kemauan ibunya karena biaya pendidikan didesa dan dikota terpantau jauh lebih mahal di kota. Dia mirip sekali dengan orang Indonesia bagian timur, mukanya saja sangat terlihat jelas dan rambutnya juga keriting berwarna kemerahan seperti rambut yang terlalu banyak terkena sinar matahari siang. Pertama kali berkenalan aku kira dia orang dari Nusa Tenggara, entah Nusa Tenggara Timur atau Nusa Tenggara Barat. Setelah tanya lebih jauh, betapa kagetnya aku bahwa dia adalah orang jawa asli. Ayah dan ibunya asli orang jawa dan tidak ada sama sekali keluarga dari keturuan luar jawa. Yang mengherankan mengapa mukanya bisa seperti itu, apakah itu dari nenek moyangnya, karena konon dahulu kala indonesia dan negara-negara lain itu menjadi satu pulau yang sangat besar. Mungkin nenek moyangnya memang dari timur karena hidupnya berpindah-pindah, sampailah ia ketempat yang sekarang kita sebut sebagai pulau Jawa. Ia menetap disana dan mengahasilkan keturunan hingga sekarang, sampai pada keturunannya yang terkhir adalah si Ika.
Lalu Rita, dia adalah anak yang gendut tapi kegendutannya tidak senormal orang gendut lainnya. Bagian kakinya normal seperti kakiku tapi dari pinggul ke atas dia gemuk. Rambutnya pendek dibawah telinga, potongan rambutnya tidak rapi mungkin dikarenakan rambutnya yang kusut dan mungkin lagi dia lebih jarang keramas dibanding denganku. Aku keramas satu minggu sekali, kadang juga dua minggu sekali tetapi kalau dia mungkin tiga minggu atau sebulan sekali baru keramas. Dia memiliki satu buah tahi lalat di bagian wajahnya.
Tidak lama kemudian, seorang Guru muda memasuki ruangan kelas, dia berjenis laki-laki, berkulit hitam dan tinggi dengan model rambut belah tengah. Beliau duduk di bangku Guru yang berada didekat jendela. Beliau memperkenalkan dirinya. Ia bernama Susilo, guru mata pelajaran IPS yang menjadi Guru kelas di kelas kami. Ada pepatah tak kenal maka tak sayang, maka dari itu kami memperkenalkan diri satu persatu di depan kelas atas permintaan Guru kelas kami untuk menjalin silaturahmi. Perkenalan dimulai dari bangku bagian depan ke bangku bagian belakang. Selesai perkenalan, beliau bercerita banyak tentang keadaan sekolah dan pengalamannya semasa sekolah. Beberapa menit kemudian beliau pergi meninggalkan kelas dan memberikan kesempatan kepada kami untuk mengenal satu sama lain.
Keadaan didalam kelas sangat gaduh, ada yang bercanda tawa dengan orang yang sudah dikenalnya, ada juga yang mengitari seluruh penjuru ruangan kelas untuk mencari tahu nama teman-teman baru ini dan ada juga yang hanya diam seperti diriku yang cukup mengenal teman-teman yang berada didekatku saja.
Pandanganku tidak bisa fokus,mencari keberadaan si Coki, dimana dia duduk sekarang. Aku pandangi bangku dari depan pojok kiri sampai paling belakang pojok kanan. Ternyata dia ada di bangku pojok kanan dari depan nomor 3. Itu sangat jauh sekali denganku, aku sangat sedih tapi setidaknya dia masih satu kelas denganku. Aku terus memandanginya, baru kali ini aku bisa mengagumi seseorang yang menurutku tergolong berlebihan. Tidak apa-apa . kulihat dia sangat asyik mengobrol dengan teman-temannya. Dia lewat didepan kelas menuju luar kelas bersama teman-temannya. Aku tidak henti-hentinya memuji betapa menariknya dia.
Bel tanda pulang sekolah pun berbunyi, kami segera bersiap untuk pulang. Aku mengambil sepedaku yang terparkir dibelakang kelas. Tidak sengaja sepedaku dekat dengan sepedanya. Sepedanya memiliki warna, model dan merek yang sama denganku, sama persis, hanya saja sepedanya lebih bagus dari sepedaku. Ini menambah rasa ingin lebih mengenal dia. Agak malu diriku melihat dia ketika hendak mengambil sepedaku. Akan kuusahakan bahwa sepedaku akan selalu dekat dekat dengan sepedanya. Kami pun pulang sekolah, tak kukira dia pulang searah denganku. Dia pulang lebih awal awal dari diriku. Aku mengayuh sepeda dengan sangat cepat sehingga aku bisa menyusulnya. Sampai tepat dibekangnya, kayuhan sepedaku melamban. Aku tidak berani mendahuluinya, aku terbawa perasaan kagum. Aku berharap dia dan temannya bisa bergerak lebih cepat. Sayangnya mereka tetap pada kecepatan sebelumnya, lambat. Aku hanya bisa diam dan membuntutinya dari belakang. Aku tidak ada maksud membuntutinya, aku hanya ingin melihatnnya disekolah saja. Hanya karena perasaan yang tidak jelas aku berada agak jauh dibelakangnya. Setelah ia belok menuju rumahnya dan berpisah dengan jalanku. Baru aku menambah kecepatan lagi agar cepat sampai rumah dan bertemu keluargaku.
Aku terus mengayuh sepeda sampai dirumahku.
“Mamah, aku pulang.....”
Aku menuju kamarku untuk melepas penat. Aku merebahkan badanku dengan masih memakai seragam.  Rasanya lelah sekali hari pertamaku masuk sekolah.
Tok....tok...tok...! kaka!, suara ibu memanggilku.
Weits! Aku ketiduran, ya ampun aku samapi tidak sadar, badanku masih tergeletak dilantai dan seragamnya pun masih menempel di badanku. Badanku rasanya masih agak lemas, karena saking lelahnya. Untuk bangun pun susah.
Dengan nada pelan pun aku menjawab,” iya mah!, sebentar lagi aku kesana”, aku menguap.
“tolong bantu mama ya, siap-siap masak untuk makan”, kata ibuku.
Ya begitulah si Mama, baru masak setelah aku pulang, kita sarapan saja jarang, tapi kita selau makan siang dan makan malam. Tepatnya makan siang menjelang sore karena masakan Mama baru jadi setelah angka menunjukkan pukul 2 siang atau lebih, pokoknya yang mendekati asar. Jadi dari pagi tadi dirumah hanya ada nasi tanpa lauk dan sayur, dan selalu seperti itu setiap hari. Tapi kami sudah terbiasa.
Tolong haluskan bumbunya ya?
Apa bumbunya mah?
Bawang putih, bawang merah, mrica, jahe sama laosnya di geprak ya...
Bawang putih berapa?
Bawang putih 3, bawang merah 3..
Banyak banget kan sayurnya Cuma sedikit?
Udah tumbuk aja, jangan sering nglawan orang tua
Yaudah, ini mricanya seberapa? Aku masukkan 10 biji ya?, aku sambil menghitung gelintiran mrica
Iya, jahe sama laosnya dikira-kira sendiri aja jangan tanya Mama terus, ini Mama juga baru goreng tempe nanti bisa gosong kalau kamu tanya mamah terus.
Ini mah, udah, wah anak Mama pnter naget masaknya!
“padahal aku Cuma numbuk bumbu, ini kadang Mama berlebihan”, gumamku.
Setelah dimasak, loh kog nggak asin? Kaka tadi belum dikasih garam ya?
Iya mah, nanti kalau tak kasih garam bisa keasinan, kan Mama kalau masak suka ngasih garam membabi buta, nah kalau gitu bisa keasinan. Apalagi Mama kalau masak kan selalu keasinan, naanti kalau aku tambah garamnya, masakan Mama bukan jadi sayur tapi jadi air laut, asinnya tuh luar binasa, bisa buat Kaka awet kaya ikan asin, hahaahaa.
Heh, asin juga kamusuka kan Ka?
Hehe.....
Dah, mateng kan mah, boleh dimakan kan?
Ayo kita makan......
Setelah makan kami, bersih-bersih rumah, selesai itu kami santai didepan rumah sambil bersenda gurau atau nonton televisi yang acaranya bernuansa komedi.
Beberapa hari pun berlalu.
Keesokan harinya, disekolah aku ngobrol sama teman satu bangku.
loh kog kamu sekarang berkerudung, kemarin kan nggak pakek?
Kan aku udah baligh, makanya aku langsung kerudungan.
Iya ya?!, tapi aku belum, mungkin masih lama, kan aku masih kecil. (padahal dia badannya lebih kecil dari aku, kog udah duluan ya). Gumamku didalam hati.
Temenku dulu juga ada, dia kerudungan pas kelas 3, karena balighnya kelas 3 juga.
Gitu ya..., kenapa gak dari kelas satu aja, buat jaga-jaga..
Kan masih sunnah Ko, jadi gak pakek krerudung juga gak papa kan?
Iya sih, yaudah deh, kalo aku besok SMA aja...
Bel masuk berbunyi, ibu guru masuk, kemudian kami mulai pelajaran. Pelajaran berjalan dengan hikmat.
Kriiiiiing.... Ada bunyi bel istirahat. Dari pelajaran sebelumnya kami mendapat PR yang lumayan gampang.
Sekarang ibu beri tugas menulis biodata diri dengan bahasa inggris, minggu depan perkenalan diri sesuai dengan apa yang kamu tulis dibuku sebanyak-banyaknya, kemudian dikumpulkan.
Iya buuuuu.
Hey kamu mau jajan ke kantin nggak, ayo bareng sama aku, aku haus banget nih.
Ayo aku tadi juga belum sarapan.
Sesampai dikantin, aku mau beli nasi, kamu mau ikut-ikutan nggak, keliatannya kamu makannya banyak.
(waduh emang mukaku kaya gitu ya kelihatannya, emang sih makanku banyak, tapi jangan terang-terangan gitu juga kali ya). Iya, sekalian deh dipesenin.
Ditempat duduk kantin.
Hey kamu ngrasa gak sih kalau guru Bahasa Inggris tadi orangnya sedikit sadis?
Nggak aku biasa-biasa aja, jangan buruk sangka deh. Jangan-jagan kamu emang gak bahasa inggris ya, jadi ketemu gurunya juga kamu udah takut duluan.
Enggak juga sih, tapi menurut instingku, guru itu luar biasa sadis, masak baru sekali masuk udah disuruh perkenalan didepan kelas pakek bahasa inggris pula.
Nah kan ketahuan, itu dasarnya kamu nggak bisa bahasa inggris kan? Ngaku aja, pakek nuduh orang aja.
Hmmm yaudah deh, aku laper mau makan dulu.
Kan yang belum sarapan aku, kenapa kamu yang laper, ternyata makanmu emang banyak sesua dugaanku sebelumnya.
...(aku diam aja, sambil makan)
Selesai makan, aku jalan ke kasir, berapa bu nasi soto 1, es teh satu, tempe 2?
Lima ribu dek.
Ini ya buk, terimakasih. (ini uang sakuku cuma lima ribu dikurangi lima ribu sama dengan nol, waduuuh uangku habis, nanti pulang sekolah nggak bisa beli es, mana cuacanya panas banget, besok aku harus pengiritan)
Ko! Ayo buruan masuk kelas, udah bel nih, nanti kita bisa nggak diperbolehkan masuk kalau telat.
Oke.
Aku jalan menuju kelas, aku lihat ibu guru bahasa indonesia udah hampir sampai dikelas. Aku jalan buru-buru banget tapi gak bisa lari, perutku kekenyangan. (ayo cepet Ko nanti keduluan sama gurunya). Tapi untung aja pas aku mau masuk ke kelas, gurunya diajak ngobrol sebentar dengan guru dikelas sebelah. Hahaha....aku bisa atur napas dulu di dalam kelas sebelum pelajaran dimulai. Aku menoleh ke arah kanan, mengintai apa yang sedang ia lakukan disebelah sana. Aku lihat si Dia udah ngeluarin buku aja, kayaknya dia orang yang rajin, nggak salah memang plihanku. Hahaa.

to be continued......

Cerita gue....



MALE’ BANA
Suatu hari si Tikok sedang menyapu halaman istana,tiba-tiba sang ratu  si Raciuh memanggilnya.Sesegera mungkin si Tikok menghadap tuannya.
Si Raciuh         : si Tikoooooo......kkh,cepat k,kesini manghadap saya!,katanya dengan garang hingga tidak sadar telah menyemprotkan air liur yang seperti hujan itu.
Si Tikok            : I..iiya Si...,jawabnya dengan muka glagapan basah kuyup tersembur air bah dari mulut sang majikan.
Si Raciuh         : Thoolong bersihkan debu di bawah meja,itu sangat mengganggu pemandangan tuanmu ini.
Si Tikok            : Segera saya laksanakan My Khing,jawabnya dengan gagah.
Setelah itu segeralah ia membersihkan debu itu.Ia mulai menyapu di sebelah ujung kursi dekat kaki sang ratu.Srrrhhek......sekali ia mengayunkan sapu debu-debu beterbangan kemana-mana kebaju,kaki,tangan,muka dan akhirnya sampailah ia ke hidung sang ratu.Seketika itu sang ratu menciptakan gerimis dari hidungnya,lama kelamaan gerimis itu menjadi hujan dan hujan menjadi badai yang keluar dari mulut sang majikan mengguyur sang penyapu istana.Selama itu sang penyapu merasakan beban derita yang amat besar hingga di sela-sela perjuangannya melawan badai itu,ia memohon pada sang dewa.
Si Tikok            :Dewwa!,teriaknya dalam hati yang paling mendalam,”mengapa badai ini tidak henti-henti mengguyur hamba,bantu hamba untuk bertahan dalam badai Jhigongbaw yang melanda dalam perjalanan menyelesaikan tugas mulia ini.
Percepat hamba untuk menyelesaikan tugas yang sangat menantang ini.”
Lelah menempuh perjalanan yang sulit ini,akhirnya ia selesai menyapu bawah meja sang tuan.
Si Raciuh         :ok,very nice.Kerja yang bagus.sebuah pujian dari Si Raciuh sambil mengelap air dari badai Jhigongbaw di sekitar mukanya.
Si Tikok tersenyum mendapat pujian dari sang master sekaligus bersin dengan hidung meler menjijikkan akibat dari badai yang menimpanya barusan.
Si Tikok            :Tt..te...rima ka chih!My Khing.Jawabnya dengan muka nano-nano.
Si Tikok keluar dari istana menuju kesebuah bukit tinggi jauh dari istana.ia berteriak Maleee’ Banaa’!!!males banget begini terus hidupku setiap hari menempuh hujan badai Jhigongbaw dari mulut My Khing
Ternyata selama ini ia menyembunyikan wajah kesalnya pada sang majikan dengan penuh kesabaran.Dan saat itu juga ia memutuskan pergi dan berkelana jauh melewati berbagai pulau dengan tujuan mencari hidup yang lebih baik.
To be continued.....