MALE’ BANA
Suatu hari si Tikok sedang menyapu halaman istana,tiba-tiba
sang ratu si Raciuh
memanggilnya.Sesegera mungkin si Tikok menghadap tuannya.
Si Raciuh : si Tikoooooo......kkh,cepat k,kesini
manghadap saya!,katanya dengan garang hingga tidak sadar telah menyemprotkan
air liur yang seperti hujan itu.
Si Tikok : I..iiya Si...,jawabnya dengan muka
glagapan basah kuyup tersembur air bah dari mulut sang majikan.
Si Raciuh : Thoolong bersihkan debu di bawah
meja,itu sangat mengganggu pemandangan tuanmu ini.
Si Tikok : Segera saya laksanakan My
Khing,jawabnya dengan gagah.
Setelah itu segeralah ia membersihkan debu itu.Ia mulai
menyapu di sebelah ujung kursi dekat kaki sang ratu.Srrrhhek......sekali ia
mengayunkan sapu debu-debu beterbangan kemana-mana kebaju,kaki,tangan,muka dan
akhirnya sampailah ia ke hidung sang ratu.Seketika itu sang ratu menciptakan
gerimis dari hidungnya,lama kelamaan gerimis itu menjadi hujan dan hujan
menjadi badai yang keluar dari mulut sang majikan mengguyur sang penyapu
istana.Selama itu sang penyapu merasakan beban derita yang amat besar hingga di
sela-sela perjuangannya melawan badai itu,ia memohon pada sang dewa.
Si Tikok :Dewwa!,teriaknya dalam hati yang
paling mendalam,”mengapa badai ini tidak henti-henti mengguyur hamba,bantu
hamba untuk bertahan dalam badai Jhigongbaw yang melanda dalam perjalanan
menyelesaikan tugas mulia ini.
Percepat
hamba untuk menyelesaikan tugas yang sangat menantang ini.”
Lelah
menempuh perjalanan yang sulit ini,akhirnya ia selesai menyapu bawah meja sang
tuan.
Si Raciuh :ok,very nice.Kerja yang bagus.sebuah
pujian dari Si Raciuh sambil mengelap air dari badai Jhigongbaw di sekitar
mukanya.
Si Tikok
tersenyum mendapat pujian dari sang master sekaligus bersin dengan hidung meler
menjijikkan akibat dari badai yang menimpanya barusan.
Si Tikok :Tt..te...rima ka chih!My
Khing.Jawabnya dengan muka nano-nano.
Si Tikok
keluar dari istana menuju kesebuah bukit tinggi jauh dari istana.ia berteriak
Maleee’ Banaa’!!!males banget begini terus hidupku setiap hari menempuh hujan
badai Jhigongbaw dari mulut My Khing
Ternyata
selama ini ia menyembunyikan wajah kesalnya pada sang majikan dengan penuh
kesabaran.Dan saat itu juga ia memutuskan pergi dan berkelana jauh melewati
berbagai pulau dengan tujuan mencari hidup yang lebih baik.
To be
continued.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar